
equityworld – Minyak menuju penurunan mingguan pertama sejak April setelah periode perdagangan befluktuasi karena investor mengkaji prospek pengetatan moneter lebih lanjut dari bank sentral guna mengekang inflasi yang merajalela.
West Texas Intermediate turun diperdagangkan mendekati $117 per barel pada hari Jumat (16/9) setelah naik 2% di sesi sebelumnya. Ketua Federal Reserve Jerome Powell minggu ini untuk pertama kalinya secara terbuka mendukung menaikkan suku bunga ke wilayah yang terbatas, sebuah strategi yang sering mengakibatkan penurunan ekonomi. Bank Sentral menaikkan suku bunga terbesar sejak 1994 pada hari Rabu guna memerangi inflasi.
Invasi Rusia ke Ukraina telah memicu inflasi dan membantu menaikkan semua biaya mulai dari makanan hingga bahan bakar. Harga bensin eceran AS telah berulang kali memecahkan rekor dan rata-rata nasional baru-baru ini mencapai $5 per galon. Sementara Gedung Putih sedang mempertimbangkan batasan ekspor bahan bakar untuk mencoba dan mengurangi kesulitan di SPBU.
Minyak masih naik lebih dari 50% tahun ini setelah rebound permintaan dikombinasikan dengan arus perdagangan terbalik dari Rusia untuk menekan pasar. Harga dapat menahan perlambatan ekonomi karena pasokan lebih ketat dibandingkan periode resesi lainnya, Wakil Ketua S&P Global Inc Daniel Yergin mengatakan pekan ini.
Minyak WTI untuk pengiriman Juli turun 0,7% menjadi $116,74 per barel di New York Mercantile Exchange pada pukul 8:10 pagi di Singapura.
Kontak berjangka turun 3,3% pekan ini.
Jenis Brent untuk pengiriman Agustus turun 0,8% menjadi $118,86 per barel di ICE Futures Europe exchange.(yds)
Sumber: Bloomberg, ewfpro