
Harga minyak dunia mengalami sedikit penurunan setelah Amerika Serikat meningkatkan perkiraan produksi minyak mentah. Meskipun demikian, ketegangan geopolitik yang persisten membatasi penurunan tersebut.
Penurunan Harga
Harga minyak mentah pada hari Selasa mengalami penurunan, dengan kontrak Brent untuk pengiriman bulan Mei turun 29 sen menjadi $81,92 per barel. Kontrak minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) untuk bulan April turun 37 sen menjadi $77,56.
Data Ekonomi dan Produksi Minyak
Data dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan kenaikan solid dalam harga konsumen pada bulan Februari, dengan inflasi yang disebabkan oleh kenaikan biaya bahan bakar dan tempat tinggal.
Sementara itu, OPEC mempertahankan perkiraan pertumbuhan permintaan minyak dunia yang relatif kuat pada tahun 2024 dan 2025, serta meningkatkan perkiraan pertumbuhan ekonomi untuk tahun ini.
Di sisi pasokan, Administrasi Informasi Energi AS (EIA) meningkatkan proyeksi pertumbuhan produksi minyak domestik pada tahun 2024 sebesar 260.000 barel per hari menjadi 13,19 juta barel, dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya sebesar 170.000 bph.
Sentimen Permintaan dan Ketegangan Geopolitik
Sentimen permintaan yang beruang dan peningkatan pasokan non-OPEC meninggalkan sedikit ruang bagi pasar untuk bersikap bullish terhadap harga minyak saat ini. Ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia juga mempengaruhi pasar minyak.
Harapan akan gencatan senjata dalam perang Israel melawan Hamas memudar, sementara serangan udara di Yaman oleh kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran terus terjadi.
Kesimpulan
Meskipun ada beberapa faktor yang mempengaruhi penurunan harga minyak, termasuk kenaikan produksi AS dan sentimen permintaan yang berkurang, ketegangan geopolitik terus memainkan peran penting dalam menentukan arah pasar minyak dunia.
Artikel ini mencakup perkembangan terbaru dalam harga minyak dunia setelah Amerika Serikat meningkatkan perkiraan produksi minyak mentah, serta dampaknya terhadap pasar dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi harga minyak.
Sumber: Reuters, Investing