Pada hari Jumat, tanggal 22 Maret, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup lebih rendah untuk hari ketiga berturut-turut. Hal ini disebabkan oleh penguatan nilai dolar AS yang mencapai level tertinggi dalam lebih dari sebulan. Minyak WTI untuk pengiriman bulan Mei ditutup turun sebesar US$0,44 menjadi US$80,63 per barel. Di sisi lain, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman bulan Mei, yang merupakan patokan global, juga mengalami penurunan sebesar US$0,35 menjadi US$85,43 per barel.
Faktor Pendorong Penurunan Harga Minyak
Kenaikan nilai dolar AS telah membatasi kenaikan harga minyak. Indeks dolar ICE mencapai level tertinggi dalam sebulan setelah Federal Reserve memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pada level tertinggi dalam 23 tahun. Selain itu, Federal Reserve juga memperkirakan akan ada pemotongan sebesar 75 basis poin pada tahun ini. Indeks terakhir ini terlihat naik sebesar 1,01 poin menjadi 104,44, mencapai level tertinggi sejak 14 Februari.
Keterbatasan Harga Minyak Brent
Meskipun terjadi penurunan harga, minyak mentah Brent masih bertahan di atas level US$85 per barel. Hal ini disebabkan oleh prospek suku bunga yang diperkirakan akan terjadi serta kekhawatiran terbatasnya pasokan yang terus mendukung harga. Analis dari Saxo Bank menyatakan, “Harga minyak mentah berada di bawah tekanan akibat penguatan dolar, namun minyak mentah Brent tetap di atas $85 per barel karena prospek suku bunga dan kekhawatiran terbatasnya pasokan terus mendukung harga.”
Kondisi Pasokan Minyak
Meskipun terjadi penurunan harga, pasokan minyak masih terbatas. Hal ini disebabkan oleh pengurangan produksi sukarela dari anggota OPEC+ sebesar 2,2 juta barel per hari yang dijadwalkan berakhir pada akhir Juni. Meskipun demikian, ada kemungkinan pengurangan tersebut akan diperpanjang hingga akhir tahun. Dengan demikian, kondisi pasokan yang terbatas ini turut berkontribusi dalam mendukung harga minyak.
Kesimpulan
Dalam rangkaian peristiwa ini, harga minyak mentah WTI mengalami penurunan untuk hari ketiga berturut-turut akibat penguatan nilai dolar AS. Meskipun demikian, minyak mentah Brent masih bertahan di atas level US$85 per barel karena prospek suku bunga dan kekhawatiran terbatasnya pasokan yang terus mendukung harga. Meskipun kondisi pasokan masih terbatas, namun ada kemungkinan pengurangan produksi akan diperpanjang hingga akhir tahun, yang dapat mempengaruhi dinamika harga minyak di masa mendatang.
Sumber: Investing
PT Equityworld Futures