Equityworld Futures – Harga Minyak Turun Karena Permintaan AS Melambat, Data China Ditunggu

Harga minyak dunia mengalami penurunan baru-baru ini, dipicu oleh beberapa faktor utama yang mempengaruhi permintaan dan pasokan global. Salah satu faktor utama adalah perlambatan permintaan dari Amerika Serikat dan data ekonomi yang lemah dari China.

Di Amerika Serikat, permintaan minyak melambat karena berbagai alasan ekonomi domestik. Sementara itu, data ekonomi China yang dirilis menunjukkan bahwa output industri dan pertumbuhan penjualan ritel berada di bawah ekspektasi. Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) China pada kuartal II-2023 hanya mencapai 6,3 persen year-on-year (yoy), lebih rendah dari proyeksi analis sebesar 7,3 persen​ (KOMPAS.com)​​ (KOMPAS.com)​. Perlambatan ekonomi China ini memicu kekhawatiran tentang permintaan minyak di masa mendatang, mengingat China adalah importir minyak mentah terbesar di dunia.

Kondisi ekonomi China yang kurang menggembirakan ini juga terlihat dari penurunan impor bahan bakar minyak pada Mei 2023, setelah mencapai level tertinggi dalam satu dekade pada April 2023. Bank sentral China bahkan memangkas suku bunga pinjaman utama untuk pertama kalinya dalam 10 bulan guna menopang ekonomi negara tersebut​ (KOMPAS.com)​. Upaya stimulus dari pemerintah China dinilai belum mampu mengangkat ekonomi secara signifikan, yang turut menekan harga minyak dunia.

Selain itu, produksi minyak global diperkirakan akan menghadapi penurunan lebih lanjut. Di Amerika Utara, kebakaran hutan di Alberta, Kanada, mengganggu pasokan minyak mentah sebesar 319.000 barel per hari. Sementara itu, produksi minyak serpih AS diprediksi turun menjadi hampir 9,40 juta barel per hari pada Agustus, penurunan pertama sejak Desember 2022​ (Antara News)​.

Pasar minyak juga dipengaruhi oleh keputusan OPEC+ (Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya) untuk mengurangi produksi. Ekspor minyak Rusia dari pelabuhan barat diperkirakan turun sebesar 100.000-200.000 barel per hari pada bulan depan, sebagai bagian dari komitmen Moskow untuk pengurangan pasokan bersama Arab Saudi​ (Antara News)​. Kebijakan ini diambil untuk menyeimbangkan pasar minyak global dan menstabilkan harga.

Dari sisi positif, throughput kilang minyak di China naik 18,9 persen secara tahunan pada April 2023, mencapai rekor tertinggi kedua. Hal ini membantu mempertahankan harga minyak mentah dari penurunan yang lebih dalam​ (KOMPAS.com)​. Namun, secara keseluruhan, sentimen pasar masih dipengaruhi oleh data ekonomi yang mengecewakan dan prospek permintaan yang lemah dari China.

Sementara itu, harga minyak dunia untuk West Texas Intermediate (WTI) AS turun 1,7 persen atau 1,27 dolar AS menjadi 74,15 dolar AS per barel, dan minyak mentah Brent turun 1,7 persen atau 1,37 dolar AS menjadi 78,50 dolar AS per barel​ (KOMPAS.com)​. Pelemahan harga ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap ketidakpastian permintaan dan ketidakstabilan pasokan.

Dengan berbagai dinamika ini, pasar minyak diprediksi akan tetap volatil dalam jangka pendek. Faktor-faktor seperti perkembangan ekonomi China, keputusan kebijakan OPEC+, dan kondisi pasokan dari negara-negara produsen utama akan terus mempengaruhi harga minyak global. Bagi para pelaku pasar dan investor, mengamati indikator-indikator ekonomi dan kebijakan ini akan sangat penting untuk mengambil keputusan yang tepat dalam menghadapi ketidakpastian pasar minyak yang terus berlanjut.

Sumber: Investing

Demo ewf

Demo Equityworld

Published by PT Equityworld Futures Cyber2

PT. Equityworld Futures merupakan salah satu anggota Bursa Berjangka Jakarta (Jakarta Futures Exchange) yang resmi berdiri pada tahun 2005. Perusahaan telah berkembang pesat seiring meningkatnya minat masyarakat untuk berinvestasi di produk-produk finansial.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started