
Harga emas kembali mencatat rekor baru pada hari Rabu, terangkat oleh meningkatnya keyakinan bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga pada bulan September menyusul komentar dari Ketua Fed Jerome Powell. Harga emas spot tercatat naik 0,5% menjadi USD2.482,29 per ounce, mencapai titik tertinggi sepanjang masa menurut data LSEG. Emas berjangka naik menjadi USD2.478,4 per ounce.
Pendorong Kenaikan Harga Emas
Sejalan dengan proyeksi tersebut, di dalam negeri, harga emas batangan PT Aneka Tambang (Antam) hari ini juga mencatatkan kenaikan yang tinggi, melesat Rp17.000 ke harga Rp1.420.000 per gram. Para pedagang yakin bahwa Fed akan memangkas suku bunga pada bulan September, membuat emas menjadi lebih menarik dibandingkan dengan aset berpendapatan tetap seperti obligasi.
Faktor-Faktor Penunjang Kenaikan Harga Emas
Menurut ahli strategi komoditas senior ANZ Daniel Hynes, pergerakan ini dipicu oleh tanda-tanda inflasi yang melambat, diikuti oleh data ekonomi yang lemah. Selain itu, harga emas telah menembus level tertinggi baru dalam beberapa bulan terakhir karena daya tariknya sebagai aset safe haven di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, serta pembelian emas batangan oleh bank sentral.
Proyeksi Harga Emas
Vivek Dhar, direktur penelitian komoditas pertambangan dan energi Commonwealth Bank of Australia, menyatakan bahwa kemampuan emas untuk mendapatkan dukungan dalam kondisi apa pun tahun ini patut disoroti. Analis riset tersebut menambahkan bahwa harga emas dapat naik di atas perkiraan bank sebesar USD2.500 per ounce pada akhir tahun.
Dengan meningkatnya keyakinan bahwa The Fed akan memangkas suku bunga, harga emas diprediksi akan terus melesat dan mencatat rekor baru. Investors di pasar komoditas patut memperhatikan perkembangan lebih lanjut terkait hal ini.
Jaga terus informasi dan analisa terkini mengenai harga emas dalam negeri maupun internasional agar dapat membuat keputusan investasi yang tepat.
Sumber: Sindonews, Investing